Terbaru

Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post

Panthera Tigris

Written By Unknown on Minggu, 08 Desember 2013 | 14.12

Panthera tigris
Harimau loreng
Tiger
Peraturan Indonesia
                SK Mentan No. 421/Kpts/Um/8/1970 (tertulis: Panthera / Tigris sondaicai).
               
SK Mentan No. 327/Kpts/Um/7/1972 (tertulis: Felis tigris sumatrana)
                Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 (tertulis Panthera tigris sumatrae, Panthera tigris sondaica)
Distribusi
                P. t. sondaica (Temminck, 1844) Jawa
                P. t. balica (Schawrz, 1912) Bali
                P. t. sumatrae (Pocock, 1929) Sumatera, Kepulauan Riau
Deskripsi
                Warna tubuh jingga kemerahan sampai hartal kemerahan., dengan bagian bawah krem. Tubuh dari hidung sampai ekor disleimuti dengan pola bergaris warna hitam dan abu-abu coklat dengan mata berwarna kebiruan. Tinggi bahu 95 cm panjang badan kurang dari 215 cm, bobot badan dewasa 130-225 kg
Kemiripan Jenis
                Panthera pardus, tubuh nila sampai coklat tua dan diselimuti bintik-bintik
Ekologi
                Hidup soliter dan kadang-kandang bersama anaknya. Umumnya aktif di malam hari. Sering memangsa babi, rusa, anjing, kambing, kodok, ikan, dan juga memangsa serangga. Di kandang stiap harinya mengkonsumsi daging 2,5-3 persend dari bobot badannya. Betina poliestrus, lam kebuntingan 105-113 hari, jumkah anak per kelahiran 1-6 ekor. Anak dilahirkan denga mata tertutup dengan bobot 1400-1600 gr (jantan) dan 700-`1200 gr (betina) dan membuka mata setelah 9-17 hari. Dewasa kelamin pada umur 3 tahun (betina) dan kurang dari 4 tahun (jantan). Harimau sanggup hidup mencapai umur 20 tahun.
Status Internasional
Nama Lokal
               
balemun, babiyat, harima godang (Sumatera), maung, meong, maung-lodaya, meyong, meyong lokbok, meyong gedhe, meyong sancang (Sunda), macan, sima, macan loreng, macan gede, macan gembong, macan cantel, lorek (Jawa) macan (Bali), harimau, rimau tunggal (Melayu).


Lutra Sumatrana

Lutra sumatrana (Gray, 1865)
Berang-berang sunung
Hairy-nosed Other

Peraturan Indonesia
               
Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999
Distribusi
                L. sumatrana (Gray, 1865): Sumatera, Kalimantan
Nama Asli
               
Barangia sumatrana (Gray, 1865)
Sinonim
                Lutra lovii (Guenther, 1876); Luitra fuliginosa (Jentink, 1892); Lutra brunnea (Pohle, 1920)
Deskripsi
               
Tubuh kecoklatan kecuali bagian bibir. Pipi dan kerongkongan berwarna keputihan. Ekor oval, rambut halus menyerupai wol. Jari kaki penuh dengan selaput renang, dengan bagian atas permukaan berambut tebal. Jari kedua sampai kelima hamper sama panjangnya dan semua kuku berkembang degan baik. Panjang badan 575-615 mm, panjang ekor 375-385 mm dan panjang telapak kaki belakang 103-107 mm.
Kemiripan Jenis
                Lutra perspicillata, Lutra lutra; area sekitar hidung (Rhinarium) tertutup oleh rambut
Ekologi
               
Hidup di pantai, hutan bakau dan sungai-sungai besar dengan pakan utamanya berupa ikan. Sering hidup menyendiri, berpasangan atau membuat kelompok dengan jumlah minimal 6 ekor.
Status Internasional
Nama Lokal
               
Sunung, barang-barang, bomper (Sumatera), ketong (Tagal), bongkol (Dusun), ambrang, anjing air, memerang kumis (Melayu)


Elephas Maximus Linnaeus

Elephas maximus Linnaeus, 1758
Gajah asia
Asian Elephant

Peraturan Indonesia
                Peraturan Perlindungan Binatang Liar 1931 (tertulis: Elephas indicus)
                Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999
Distribusi
                E. m. sumatranus (Temminck, 1847): Sumatera
                E. m. indicus (G. Cuvier, 1797): Kalimantan
Nama Asli
               
Elephas maximus (Temminck, 1847); Elephas indicus (Cuvier, 1798); Elephas asiaticus (Blumenbach, 1797); Elephas hirsutus, Lydekker, 1914.
Deskripsi
                Warna tubuh nila jada hingga hitam lontong. Sebagian besar jantan mempunyai gading 0,5-1,7 m dengan bobot 1500-15000 gr (satu buah) dan sebaliknya betina tidak memiliki atau sangat pendek gadingnya. Tinggi 1,7-2,6 (jantan) dan 1,5-2,2 m (betina)

Ekologi
               
Aktivitas harian biasannya di siang hari dan sering bermain air jika hari panas. Namun tidak jarang romongan gajah berjalan di malam hari. Luas daerah jelajahnya dapat mencapai 25-64 km2. Rute perpindahan dari tahun ketahun biasanya mengambil rute perjalanan yang sama. Pakan berupa daun-daun tua dan tidak jarang memakan pohon-pohon kecil . aktif pada pagi, sore dan malam hari sedangkan siang hari cenderung istirahat. Dijumpai di segala tipe hutan, terutama lebih menyukai di daerah yang berdekatan dengan akses ke sungai. 

Orinus Orca

Orinus orca (Linnaus, 1758)
Paus seguni
Killer Whale


Peraturan Indonesia
               
SK Mentan No. 35/Kpts/Um/10/1975 (tertulis: Dolphin)
                SK Mentan No. 716/Kpts/Um/10/1980 (tertulis: Cetacea)
                Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 (tertulis: semua jenis dari famili Cetacea)

Distribusi
                O. orca (Linnaeus, 1758): Laut di perairan Indonesia dan sekitarnya



Nama Asli
               
Delphinus orca (Linnaeus, 1758)
Deskripsi
                Jeni ini mudah dibdakan dengan jenis lain karena bentuk sirip punggung yang sanagt tinggi yaitu sekitar 0,9 meter (betina) dan 1,8 meter (jantan). Sirip tersebut berbentuk segitiga. Moncong kepala agak tumpul dengan paruh pendek. Sirip dada besar dan oval dengan panjang untuk jantan dewasa mencapai 2 meter. Warna tubuh hitam dan putih. Warna putih di bagian bwah geraham, perut dan sisi bawah sirip ekor hingga daerah alat kelamin putih. Warna putih berbentuk lubang di sisi samping dan bagian atas dari sirip punggung, warna lubang putih tersebut juga dijumpai di sisi mata. Memiliki 10-12 pasang gigi besar di setiap rahangnya. Anak dilahirkan dengan panjang 2,1-2,4 m. Panjang maksimum jantan dewasa 10 m, sedangkan betina 8,5 m dengan bobot mencapai 10.000 kg
Kemiripan jenis
                Pseudorca crasseiden, sirip punggung tegak dan warna putih di pantat; Globicephala macrochynchus, sirip memiliki benjolan di dahi, warna putih di pantat.
Ekologi
               
Sering mendiami daerah yang berdekatan degan laut dalam. Jenis ini memakan burung laut, penyu, ikan, crustacean dan tidak jarang sering menyerang paus dan hewan laut lainnya.
Status Internasional

Nama Lokal
               
Seguni

Orcaella Brevirostris

Orcaella brevirostris (Gray, 1866)
Pesut Mahakam
Snubfin Dolphin

Peraturan Indonesia
                SK Mentan No. 35/Kpts/Um/10/1975 (tertulis Dolphin)
                SK Mentan No. 35/Kpts/Um/10/1975 (tertulis: Lumba-lumba air tawar/ Orcaella fluminalis)
                SK Mentan No. 716/Kpts/Um/10/1980 (tertulis: Cetacea)
                Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999 (tertulus semua jenis dari familia Cetacea)

Distribusi
                O. brevirostris (Gray, 1866): Sungai Mahakam, laut perairan Indonesia dan sekitarnya

Klasifikasi
               
Kingdom              : Animalia
                Phylum                 : Chordata
                Class                      : Mammalia
                Order                    : Cetartiodactyla
                Family                   : Delphinidae
                Genus                   : Orcaella
                Spesies                 : Orcaella brevirostris

Nama Asli
                Orcaella brevirostris (Gray, 1866)
Sinonim
                Orcaella fluminalisi (Gray, 1871)
Deskripsi
                Sirip punggung berbentuk segitiga dan sangat kecil, tumpul melengkung diujung. Sirip ini terletak di tengah tubuh. Kepala tumpul dan tidak memiliki moncong. Garis mulut luru dengan lubang semprotan air berbentuk huruf U yang terbuka di depan. Warna bagian atas abu-abu kebiruan sampai biru lebam dengan bagian bawah lebih terang. Jumlah gigi 17-20 di rahang atas dan di rahang bawah 15-18 pasang. Anak di lahirkan dengan kisaran panjang 1 m. Panjang tubuh dewasa rata-rata 2m hingga 2,3m. memiliki benjolan bulat di dahi
Kemiripan jenis
                Grampus griseus, memiliki gigi di rahang bawah, tidak memiliki gigi di rahang atas; Feresa attenuate, Peponocephala electra, Lagenodelphi hosei, tidak memiliki benjolan di dahi; Lagenohynchus obliquides, memiliki pola tebal di bagian dubur dan tidak memiliki benjolan bulat di dahi.
Ekologi
                Hidup di sekitar pantai dan perairan tawar seperti di Sungai Mahakam atau sekitar peralihan antara perairan air tawar dan laut. Jenis ini berkelompok kurang dari 6 individu akan tetapi pernah terlihat berkelompok sekitar 15 inidividu. Jenis ini sering berasosoiasi dengan T. truntacus dan S. chinensis. Pakan utamanya berupa crustacean dan kelompok cumi-cumi.

Status Internasional


Nama Lokal
               
Ikan pesut, ikan bawni (Kalimantan), selareng (Kenyah), sempuh (Bahau), pust (Kutai)

Ratufa Bicolor

Ratufa bicolor (Sparman, 1778)
Jelarang hitam
Black-giant Squirel


Peraturan Indonesia
               
SK Mentan No.66/Kpts/Um/2/1973
                Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999

Distribusi
                R. b. laenata Miller, 1903: Kepulauan Banyak (Tuangku)
                R. b. batuana Lyon, 1917: Kepulauan Batu
                R. b. palliate Miller, 1902: Sumatera
                R. b. anambae Miller, 1900: Kepulauan Anambas (Jemaja)
                R. b. angusticeps Miller, 1901: Kepulauan Natuna (Lingung)
                R. b. bicolor Sparmann, 1778: Jawa Barat (bagian barat)
                R. b. albiceps Desmarest, 1817: Jawa (bagian timur), Bali

Klasifikasi
Kingdom              : Animalia
Phylum                 : Chordata
Class                      : Mammalia
Order                    : Rodentia
Family                   : Sciuridae
Genus                   : Ratufa
Spesies                 : Ratufa bicolor

Nama Asli
                Sciurus bicolor Sparmann, 1778

Sinonim
               
Sciurus javenis Zimmermann, 1780; Sciurus leschenaultia Desmarest, 1822; Sciurus albiceps Desmarest, 1816; Sciurus humeralis Coulon, 1836; Funambulus bicolor Fitzinger, 1867.
Deskripsi
                Warna punggung hitam atau coklat dengan telinga hitam, kaki depan hitam cenderung putih, pipi warna pucat, paha dan bahu hitam tidak pucat, warna hitam di dagu. Panjang tubuh maksimum 470 mm
Kemiripan Jenis
                Ratufa affinis, warna coklat di punggung dan yang berasal dari Kalimantan kadang-kadang hitam, kaki depan pucat atau gelap, tidak dijumpai tanda hitam di dagu
Ekologi
                Menenmpati habitat hutan primer, sekunder dari 500-2000 m dpl, menyukai pakan buah Fucus spp. Lama kebuntingan 5 minggu atau 28-35 hari dengan jumlah anak per kelahiran 2-3 ekor. Anak dilahirkan umumnya terjadi pada bulan April-Mei atau Agustus-September. Tercatat mampu sampai tahun masa hidupnya.
Status Internasional



Nama Lokal
               
Tupai janjang, tupai galang, bokol (Sumatera), bajing jelarang, jelarang (Sunda), jlarang, jalrang  (Jawa), kapkapan (Bali).


Cynocephalus Variegatus

Cynocephalus variegatus
Kubung Malaya
Flying Lemur


Peraturan Indonesia
                Peraturan Pemerintah no.7 Tahun 1999



Distribusi
                C. v. tuancu (Miller, 1903): Kepulauan Banyak (Tuangku)
                C. v. saturates (Miller, 1903): Kepulauan Batu (Tanahbela)
                C. v. tellonis Lyon, 1908: Kepulauan Batu (Tello)
                C. v. peninsulae Thomas, 1909: Bintan
                C. v. chombolis (Lyon, 1909): Kepulauan Lingga
                C. v. temminckii (Waterhouse, 1839): Sumatra, Bangka
                C. v. gracilis (Miller, 1903): Serasan, Subi, Kepulauan Natuna
                C. v. abboti (Lyon, 1911): Kepulauan Karimata
                C. v. natunae (Miller, 1903): Kalimantan, Bunguran, Banggi, Siantan, Kepulauan Anambas
                C. v. lautensis (Lyon, 1911): Laut, Sebuku
                C. v. variegatus (Audebert, 1799): Jawa

Klasifikasi
Kingdom              : Animalia
Phylum                 : Chordata
Class                      : Mammalia
Order                    : Dermoptera
Family                   : Cynocephalidae
Genus                   : Cynocehpalus
Spesies                 : Cynocephalus variegatus
Nama Asli
               
Galeopithecus variegatus Audebert, 1799.
Deskripsi
               
Warna tubuh tengguli dengan warna soga, di bagian atas banyak di jumpai percikan warna kecil-kecil abu-abu. Warna sangat kontras terletak di bagian leher antara coklat kekuningan di bagian bawah selaput terbang dan abu-abu tua sampai coklat tua di bagian atas. Garis punggung lebar. Mempunyai gigi depan yang berbentuk sisir. Keseluruhan kakinya mempunyai kuku yang tajam. Panjang kepala hingga badan 330-380 mm, panjang ekoer 239-265 mm dengan bobot badan 1108-1320 gr
Kemiripan Jenis
                Cynocephalus volans (Linnaeus, 1758), hanya di jumpai di kawasan Philipina, tidak mempunyai warna kontras di bagian leher, ukuran gigi seri pertama di geraham atas kecil kira-kira ¼ I2 sedangkan variegatus berukuran ½ I2 sedangkan variegatus berukuran ½ I2 .
Ekologi
                Jenis ini merupakan salah satu satwa yang sanggup melayang (tidak terbang) di udara. Untuk melayang, jenis ini harus memanjat lebih terlebih dahulu. Umumnya mendiami hutan priemer, sekunder, dan perkebunan. Sering tinggal di lubang pohon, pucuk mahkota pohon (kelapa) pada ketinggain sampai 1000 m dpl. Pada waktu memanjat pohon untuk melayang sering kali ekornya dilipat di bawah perutnya. Pakn utamanya adalah daun muda, bunga, buah-buhahn. Siang hari tidur dan aktif pada malam hingga pagi hari. Masa bunting 60 hari dengna satu anak dilahirkan.
Status Internatsional
IUCN Red List (October, 2009)
http://www.iucnredlist.org/


Nama Lokal:
               
Kubung, kubin (Sumatra), kaduk (Kalimantan Selatan), kuwung buhis, kuwung bulauw, kuwung luwet, kung (Kalimantan), tando, gaplek, krendo-kenceng, kendok, grindeh, walang kando, kulin (Jawa), cukbung (Sunda)

Pongo Abelii

Pongo abelii Lesson, 1827
Mawas Sumatra
Sumatran Orangutan

Peraturan Indonesia
                Peraturan Perlindungan Binatang Liar 1931 (tertulis: Sinia satyrus)
                Peraturan pemerintah No. 7 Tahun 1999 (tertulis: Pongo pygmaeus)

Distribusi
                P. abelii Lesson, 1827: Sumatra (bagian utara)
Klasifikasi
Kingdom              : Animalia
Phylum                 : Chordata
Class                      : Mammalia
Order                    : Primates
Family                   : Hominidae
Genus                   : Pongo
Spesies                 : Pongo abelii


Nama Asli
                Pongo abelii Lesson, 1827
Sinonim
                Pithecus bicolor Geoffroy, 1841; Pithecus brookei Blyth, 1853, Sinia gigantica pearson, 1841; Satyrus sundaicus sumatranus Mayer, 1856; Pythecus sumatranus abogenis Selenka, 1896; Pithecus sumatranus deliensis Selenka, 1896; Pithecus sumatranus langkatensis Selenka, 1896.
Deskripsi
                Tubuh berukuran besar dengan tubuh berwarna kayu manis. Betina mempunyai jenggot, jantan berjenggot besar, pipi janttan rata dan tertutup dengan rambut yang halus, tengkorak tidak memiliki lekuk antara tulang mata. Secara mikroskopis rambut mawas Sumatra lebih tipis dari mawas Kalimantan, membulat, kolom pigmen gelap yang halus dan sering patah di bagian tengahnya dengan ujung kadang berwarna hitam. Jantan dewasa memiliki ukutan tubuh dua kali lebih besar dibandingkan betinanya, yaitu berkisar antara 125-250 mm. berat tubuh jantan berkisar antara 50 – 90 kg, sedangkan betina berkisar 30 – 50 kg.
Kemiripan Jenis
                Pongo pygmaeus, lebih kecil, betina tanpa janggut, janggut jantan kecil, bulu rambut merah manggis, moncong prognathous dan berbentuk menyerupai angka 8.
Ekologi
                Jenis ini dapat dijumpai hingga di ketinggian 1500 m dpl terutama mendiami daerah dataran rendah dan rawa gambut, tanah alluvial sepanjang sungai dan sedikit di dataran tinggi. Hidup soliter walaupun sering terlihat berpasangan terutama saat menjelang perkawinan. Lama waktu berpasangan biasanaya 2-3 minggu. Masa kehamilan berkisar 9 bulan. Setiap individu membuat dua hingga tiga sarang tidur dan istirahat. Sarang bekas jarang digunakan untuk tempat tinggal. Daerah jelajah jantan 5-10 km2 dan betina 1-3 km2 dengan kemampuan jelajah harian sekitar 1 km. Jenis ini mudah terinfeksi penyakit seperti halnya yang diderita manusia seperti hepatitis dan TBC. Rentang waktu hidupnya dapat mencapai 50 tahun.
Status Internasional



Nama Lokal
                Mayas, mawas, orang panda (Sumatra), mayew, mawey (Aceh), umang (Batak Karo-Dairi), orang pendek (Bengkulu), gugu (Serawai-Bengkulu Tenggara), sebaba (Pasemah, Bengkulu Tenggara) li koiyau (Riau), leco (RokanRiau), sedapa (Palembang).


Nycticebus Coucang

Nycticebus coucang (Boddaert, 1785)
Kukang bukang
Slow Loris

Peraturan Indonesia
               
SK Mentan No. 66/Kpts/Um/2/1973

                Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999

Distribusi
                N. c. buku (Martin, 1838): Sumatra (selain ditempati oleh N. c. brachycepahalus)

                N. c. brachycephalus (Sody, 1949): Tebingtinggi, Pantai timur Sumatra
                N. c. bancanus (Lyon, 1906): Kepulauan Riau, Bangka
                N. c. natunae (Stone, 1902): Bunguran, Natuna Besar
                N. c. borneanus (Lyon, 1906): Kepulauan Karimata, Kalimantan


Nama Asli:
               
Semnopithecus buku (Martin, 1838)

                Nyctecebus sumatrensis (Ludeking, 1826)
Deskripsi
               
Mata bulat, ekor sangat pendek. Warna rambut kuning kecoklatan dengan garis coklat tua di sepanjang punggungnya. Warna coklat juga melingkari matanya sehingga terkesan memakai kaca mata, di atas kedua alis bola mata menjulur warna coklat tua dan bersatu di punggung dan di antara kedua warna yang berada di atas alis bola mata tersebut membentuk warna coklat muda. Pada waktu malam mata merefleks jika terkena sorot sinar dan terlihat mata berwarna kemerahan. Kuku tangan sangat tajam dan melengkung , ibu jari membesar dengan jari kedua pendek. Gigi seri selalu berjumlah 4, panjang badan 300-365 mm dengan bobot badan 1000-2000 gr.



Kemiripan Jenis
               
Nycticebus javanicus hanya terdapat di Jawa, warna di bagian atas di atas alis kedua bola mata berwarna putih, gigi seri 2, 3, atau 4.
Ekologi
               
Dijumpai di hutan primer dan sekunder di dataran rendah atau pegunungan, hutan bamboo, bakau dan tidak jarang dijumpai di perkebunan coklat. Pergerakannya sangat lamban dan jarang dijumpai turin ke tanah. Pada umumnya hidup menyendiri di malam hari dengan pakan utamanya serangga, moluska, mamalia kecil, cicak, buah-buahan yang lunak seperti Piper aduncum dan kadang makan buah coklat. Kebuntingan dicapai pada kurun waktu 193 hari dengan siklus menstruasi 37-54 hari. Dewasa kelamin 18-24 bulan, anak memisahkan diri dari induknya 12-14 bulan. Di laboratorium jenis ini sanggup hidup sampai mencapai umur 12 tahun 8 bulan.
Status Internasional

Nama Lokal
               
Bukang, kemalasan, kongkang (Sumatra), buku-semunding (Riau, Sumatra bagian Timur, Bangka) Ria, pincha-tingaling (Sumatra), putra bayur, bakiki (Punan, Pasir), beruk alun, bengkong (Kayan), daou laon (Melap), duk talon (Keanyah), fugah, pugah (Lun Dayak, Kelabit), kuge (Berau), hafat lumut (Bahau), kelawat jumok (Berau), pakiki (Melayu), songneong (Modang), warik bamban (Bukit), woruk pukot (Dusun).

Dendrolagus doranius

Written By Unknown on Kamis, 14 November 2013 | 17.10

Dendrolagus doranius Ramsay, 1883
Kanguru pohon ndomea
Unicoloured Tree-kangaroo



Peraturan Indonesia
                SK Mentan No. 247/Kpts/Um/4/1979 (tertulis: Dendrolagus spp.)
                Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 (tertulis: semua jenis dari marga Dendrolagus)

Distribusi
                D. d. mayri Rothschild & Dollman, 1933: Papua (Semenanjung Bomberai, Pegunungan Wondiwoi, Pegunungan Sudirman, Pegunungan Jayawijaya)
                D. d. notatus Matshie, 1916: Papua
                D. d. stellarum Flannery & Seri 1990: Pegunungan Maakop, Papua.


Klasifikasi
Kingdom              : Animalia
Phylum                 : Chordata
Class                      : Mammalia
Order                    : Marsupialia
Family                   : Macropodidae
Genus                   : Dendrolagus


Nama Asli:
                Dendrolagus aureus Ramsay, 1883

Sinonim:
                Dendrolagus aureus Rothschild & Dollman, 1936; Dendrolagus palliceps Troughton & Le Souef, 1936; Dendrolagus profugus Troughton & Le Souef, 1936.

Deskripsi:
                Perut dan bagian bawah tubuh berwarna coklat agak kehitaman menyerupai bagian punggung dan bahu yang berwarna coklat dengan ujung rambut sedikit keperakan. Panjang ekor kurang dari 120 % panjang badan. Bagian pangkal ekor dan anggota badan kemerahan atau dengan pangkal ekoer berwarna kekuningan. Panjang badan 515-770 mm, panjang ekor 400-662 mm (77-80 % panjang badan), panjang telapak kaki 90-120 mm. bobot badan 7000-14500 gr

Ekologi
                Dapat djiumpai pada ketinggian 600-3650 m dpl, hidup dengan membentuk kelompok kecil terdiri atas jantan dan betina dewasa bersama anaknya. Lama kopulasi 20 menit, dewasa kelamin dicapai lebih dari 21 bulan. Hidup mencari pakan berupa daun seperti Asplenium spp

Status internasional


Nama Lokal:
                Tingkalong, ndomea (Moni, Pogapa), naki (Amungme-Temagapura), weya (Dani, Kwiyawagi)

Ailiurops ursinus

Ailiurops ursinus (Temminck, 1842)
Bubutu mehmu
Bear Cuscus, Large-sulawesi Cuscus


Peraturan Indonesia
                SK Mentan No. 247/Kpts/Um/4/1979 (tertulis: Phalanger spp).
                Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999. (tertulis semua jenis dari marga Phalanger)

Distribusi
                A. u. melanotis Thomas, 1898: Kepulaluan Talaud (Salebabu)
                A. u. ursinus (Temminck, 1842): Sulawesi (bagian utara)
                A. u. furvus Miller & Hollister, 1992: Sulawesi (bagian tengah dan timur).
                A. u. flavissimus Feiler, 1977: Peleng.
                A. u. toganius Tate, 1945: Kepulauan Togian (Melange)

Klasifikasi
Kingdom              : Animalia
Phylum                 : Chordata
Class                      : Mammalia
Order                    : Diprotodontia
Family                   : Phalangeridae
Genus                   : Ailurops (1)


Nama Asli:
                Phalangista ursine Temminck, 1824
Sinonim
                Phalanger furvus Miller & Hollister, 1992; Phalanger ursinus flavissinus Feiler 1977; Phalanger ursinus intermedius Hooijer, 1952.
Deskripsi:
                Merupakan kelompok kuskus terbesar, tidak dijumpai bintik dan garis strip di punggungnya, rambut bulu terkesan panjang dan kasar, bagian dalam telinga berambut, tubuh kehitaman dengan ujung rambut kekuningan, bagian bawah tubuh keputihan, memiliki lingkaran mata, ekor yang polos tertutup oleh tuberkula kasar dan moncong berambut sangat sedikit. Bobot badan 10000 gr, panjang badan 610 mm, panjang ekor 580 mm dan panjang telapak kaki 120 mm.
Kemiripan Jenis
                Strigocuscus celebensis, bulu rambut halus telinga bagian dalam polos.
Ekologi
                Tidak sepenuhnya aktif di malam hari tetapi juga aktif di siang hari. Jenis ini menyukai nasi, buah-buahan, daun Ficus sp, Draconto melumdao, Syzygium sp. dan Garuga floribunda. Jenis ini banyak dijumpai di ketinggian 400 m dpl dan mulai jarang di ketinggian 60 m dpl, walaupun pernah dilaporkan hidup sampai 1800 m dpl.

Status Internasional

Nama Lokal
                Bubutu, kuskus, kuseh (jantan) (Sulawei), lokkon (betina, Minahasa), mehmu (Bugis).

Monotremata

Monotremata



Anggota-anggota subkelas ini mempunyai ciri-ciri: tidak punya daun telinga, hewan muda bergigi, hewan dewasa berpengaruh, mempunyai kloaka, kelenjar susu tanpa putting, testes abdominal (terletak di dalam rongga abdomen, tidak turun ke dalam kantung buah zakar), bersifat ovipar.  






Zaglossus bruijnii (Peters & Doria, 1876)
Nokdiak nata-fem
Long-beaked Echidna




Peraturan Indonesia
                SK Mentan No. 66/Kpts/Um/2/1973 (tertulis: Prochochidna bruijnii, nama marga Procochidna telah direvii menjadi Zaglossus).

Distribusi

                Z. b. googfellowi (Thomas, 1907): Salawati.

                Z. b. bruijnii (Peters & Doria. 1876): Papua.


Klasifikasi:

KingdomAnimalia
PhylumChordata
ClassMammalia
OrderMonotremata
FamilyTachyglossidae
GenusZaglossus 
Nama Asli:
                Tachiglossus bruijnii (Peters & Doria, 1876)

Sinonim:
                Bruijnii tridactyla Dubois, 1882; Prochidna leucocephala Rothschild, 1893; Acanthoglossus goodfellowi Thomas, 1907; Proechidna nigro-aculeata Rothschild, 1893.

Deskripsi:
                Salah satu mamalia bertelur, tubuh diselimuti rambut dan duri selayaknya seperti landak yang berada di Indonesia bagian baratt. Warna rambut kecoklatan atau hitam kecoklatan, warna duri keputihan dan kadangkala berwarna abu-abu terang. Moncong berupa paruh menjulur panjang dan melengkung ke bawah, tidak memiliki gigi. Jari kaki berkuku dengan kuku jari kaki belakang lebih panjang. Panjang badan 573-656 mm dengan bobot badan 10000-16500 gr.

Kemiripan jenis
                Tachiglosssus aculentus, paruh pendek, ukuran lebih kecil dengan duri kekuningan dan ujung hitam

Status International


Ekologi
                Hidup di hutan primer, sekunder, atau lokasi dimana jaran dikunjungi manusia pada ketingggian 600-4150 m dpl, hutan dataran rendah dengan tanah yang lembek. Pakan berupa cacing yang diambilnya dengan menggunakan lidah yang ada di dalam paruh. Sering di jumpai di dalam lubang-lubang tanah. Anak yang baru menetas dari telurnya di sembunyiknan dalam kantong induknya, anak berpisah dari induknya atau keluar dari sarang setelah berambut sempurna. Kerapatan jenis ini di alam sangat rendah, diperkirakan 1,6 individu per km

Karakteristik Mamalia


1. Kelenjar susu
                Jenis betinanya mempunyai kelenjar kulit di bwah tubuh (misalnya daerah abdominal, pectoral, dan inguinal) yang mengeluarkan susu sesudah melahirkan. Pada Marsupialia dan hewan placental kelenjar susu memiliki puting. Monotrremata tidak memiliki puting tetapi pada wakktu menyusui anaknya, induknya meneletang sehingga susu menglir karena adanya tekanan abdomen akibat stimulus anaknya. Pada jenis jantan kelenjar susu meredukksi sehingga tidak dapat digunakan sebagaimana jenis betina.



2. Rambut
                Semua mamal pada dasarnya memilki rambut, sedikitnya daam datu fase siklus hidupnya. Pada paus hanya ada beberapa helai rambut di daerah tenggorokan yang kemudian mereduksi setelah dewasa. Setiap rambut tumbuh dari suatu bulbus dalam kulit yang terletak miring sehingga mengakibatkan rambut tumbuh pada pola tertentu. Kantung (bulbus) ini dilengkapi kelenjar palit yang mengeluarkan zat semacam minyak (sebum) yang menyebabkan rambut mengkilap. Pada dasarnya rambut berperan penting dalam pengaturan suhu (thermoregulasi).




3.Homoiothermia (hewan berdarah panas)

                Pada mamalia suhu tubuh dipertahankan pada suhu yang relatif tetap (sekitar 36°C) sehingga kebanyakan mamalia secara teoritis sanggup melakukan aktivitas walaupun pada suhu lingkungan yang sangat rendah. Dalam udara dingin bulu berdiri dengan demikian tebal lapisan isolasinyamenjadi lebih besar, sedangkan di udara panas berlebihan disalurkan keluar melalui kelenjar keringat yang juga merupakan ciri khas mamalia. Adanya suhu tubuh yang terus menerus tinggi memungkinkan hewan yang bersangkutan memanfaatkan lingkungan yang dingin bahkan lingkungan kutub dan memperhatikan aktivitas tanpa bergantung pada suhu luar.


sidebar2

Subscribe via RSS Feed If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Taksonomi Mamalia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger