Latest Post
06.37
Pongo Abelii
Written By Unknown on Minggu, 08 Desember 2013 | 06.37
Pongo abelii Lesson, 1827
Mawas Sumatra
Sumatran Orangutan
Mawas Sumatra
Sumatran Orangutan
Peraturan Indonesia
Peraturan Perlindungan Binatang Liar 1931 (tertulis: Sinia satyrus)
Peraturan pemerintah No. 7 Tahun 1999 (tertulis: Pongo pygmaeus)
Peraturan Perlindungan Binatang Liar 1931 (tertulis: Sinia satyrus)
Peraturan pemerintah No. 7 Tahun 1999 (tertulis: Pongo pygmaeus)
Distribusi
P. abelii Lesson, 1827: Sumatra (bagian utara)
P. abelii Lesson, 1827: Sumatra (bagian utara)
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Mammalia
Order : Primates
Family : Hominidae
Genus : Pongo
Spesies : Pongo abelii
Spesies : Pongo abelii
Nama Asli
Pongo abelii Lesson, 1827
Pongo abelii Lesson, 1827
Sinonim
Pithecus bicolor Geoffroy, 1841; Pithecus brookei Blyth, 1853, Sinia gigantica pearson, 1841; Satyrus sundaicus sumatranus Mayer, 1856; Pythecus sumatranus abogenis Selenka, 1896; Pithecus sumatranus deliensis Selenka, 1896; Pithecus sumatranus langkatensis Selenka, 1896.
Pithecus bicolor Geoffroy, 1841; Pithecus brookei Blyth, 1853, Sinia gigantica pearson, 1841; Satyrus sundaicus sumatranus Mayer, 1856; Pythecus sumatranus abogenis Selenka, 1896; Pithecus sumatranus deliensis Selenka, 1896; Pithecus sumatranus langkatensis Selenka, 1896.
Deskripsi
Tubuh berukuran besar dengan tubuh berwarna kayu manis. Betina mempunyai jenggot, jantan berjenggot besar, pipi janttan rata dan tertutup dengan rambut yang halus, tengkorak tidak memiliki lekuk antara tulang mata. Secara mikroskopis rambut mawas Sumatra lebih tipis dari mawas Kalimantan, membulat, kolom pigmen gelap yang halus dan sering patah di bagian tengahnya dengan ujung kadang berwarna hitam. Jantan dewasa memiliki ukutan tubuh dua kali lebih besar dibandingkan betinanya, yaitu berkisar antara 125-250 mm. berat tubuh jantan berkisar antara 50 – 90 kg, sedangkan betina berkisar 30 – 50 kg.
Tubuh berukuran besar dengan tubuh berwarna kayu manis. Betina mempunyai jenggot, jantan berjenggot besar, pipi janttan rata dan tertutup dengan rambut yang halus, tengkorak tidak memiliki lekuk antara tulang mata. Secara mikroskopis rambut mawas Sumatra lebih tipis dari mawas Kalimantan, membulat, kolom pigmen gelap yang halus dan sering patah di bagian tengahnya dengan ujung kadang berwarna hitam. Jantan dewasa memiliki ukutan tubuh dua kali lebih besar dibandingkan betinanya, yaitu berkisar antara 125-250 mm. berat tubuh jantan berkisar antara 50 – 90 kg, sedangkan betina berkisar 30 – 50 kg.
Kemiripan Jenis
Pongo pygmaeus, lebih kecil, betina tanpa janggut, janggut jantan kecil, bulu rambut merah manggis, moncong prognathous dan berbentuk menyerupai angka 8.
Pongo pygmaeus, lebih kecil, betina tanpa janggut, janggut jantan kecil, bulu rambut merah manggis, moncong prognathous dan berbentuk menyerupai angka 8.
Ekologi
Jenis ini dapat dijumpai hingga di ketinggian 1500 m dpl terutama mendiami daerah dataran rendah dan rawa gambut, tanah alluvial sepanjang sungai dan sedikit di dataran tinggi. Hidup soliter walaupun sering terlihat berpasangan terutama saat menjelang perkawinan. Lama waktu berpasangan biasanaya 2-3 minggu. Masa kehamilan berkisar 9 bulan. Setiap individu membuat dua hingga tiga sarang tidur dan istirahat. Sarang bekas jarang digunakan untuk tempat tinggal. Daerah jelajah jantan 5-10 km2 dan betina 1-3 km2 dengan kemampuan jelajah harian sekitar 1 km. Jenis ini mudah terinfeksi penyakit seperti halnya yang diderita manusia seperti hepatitis dan TBC. Rentang waktu hidupnya dapat mencapai 50 tahun.
Jenis ini dapat dijumpai hingga di ketinggian 1500 m dpl terutama mendiami daerah dataran rendah dan rawa gambut, tanah alluvial sepanjang sungai dan sedikit di dataran tinggi. Hidup soliter walaupun sering terlihat berpasangan terutama saat menjelang perkawinan. Lama waktu berpasangan biasanaya 2-3 minggu. Masa kehamilan berkisar 9 bulan. Setiap individu membuat dua hingga tiga sarang tidur dan istirahat. Sarang bekas jarang digunakan untuk tempat tinggal. Daerah jelajah jantan 5-10 km2 dan betina 1-3 km2 dengan kemampuan jelajah harian sekitar 1 km. Jenis ini mudah terinfeksi penyakit seperti halnya yang diderita manusia seperti hepatitis dan TBC. Rentang waktu hidupnya dapat mencapai 50 tahun.
Status Internasional
Nama Lokal
Mayas, mawas, orang panda (Sumatra), mayew, mawey (Aceh), umang (Batak Karo-Dairi), orang pendek (Bengkulu), gugu (Serawai-Bengkulu Tenggara), sebaba (Pasemah, Bengkulu Tenggara) li koiyau (Riau), leco (RokanRiau), sedapa (Palembang).
Mayas, mawas, orang panda (Sumatra), mayew, mawey (Aceh), umang (Batak Karo-Dairi), orang pendek (Bengkulu), gugu (Serawai-Bengkulu Tenggara), sebaba (Pasemah, Bengkulu Tenggara) li koiyau (Riau), leco (RokanRiau), sedapa (Palembang).
06.20
Nycticebus Coucang
Nycticebus coucang (Boddaert, 1785)
Kukang bukang
Slow Loris
Kukang bukang
Slow Loris
Peraturan Indonesia
SK Mentan No. 66/Kpts/Um/2/1973
Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999
SK Mentan No. 66/Kpts/Um/2/1973
Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999
Distribusi
N. c. buku (Martin, 1838): Sumatra (selain ditempati oleh N. c. brachycepahalus)
N. c. brachycephalus (Sody, 1949): Tebingtinggi, Pantai timur Sumatra
N. c. bancanus (Lyon, 1906): Kepulauan Riau, Bangka
N. c. natunae (Stone, 1902): Bunguran, Natuna Besar
N. c. borneanus (Lyon, 1906): Kepulauan Karimata, Kalimantan
N. c. buku (Martin, 1838): Sumatra (selain ditempati oleh N. c. brachycepahalus)
N. c. brachycephalus (Sody, 1949): Tebingtinggi, Pantai timur Sumatra
N. c. bancanus (Lyon, 1906): Kepulauan Riau, Bangka
N. c. natunae (Stone, 1902): Bunguran, Natuna Besar
N. c. borneanus (Lyon, 1906): Kepulauan Karimata, Kalimantan
Nama Asli:
Semnopithecus buku (Martin, 1838)
Nyctecebus sumatrensis (Ludeking, 1826)
Semnopithecus buku (Martin, 1838)
Nyctecebus sumatrensis (Ludeking, 1826)
Deskripsi
Mata bulat, ekor sangat pendek. Warna rambut kuning kecoklatan dengan garis coklat tua di sepanjang punggungnya. Warna coklat juga melingkari matanya sehingga terkesan memakai kaca mata, di atas kedua alis bola mata menjulur warna coklat tua dan bersatu di punggung dan di antara kedua warna yang berada di atas alis bola mata tersebut membentuk warna coklat muda. Pada waktu malam mata merefleks jika terkena sorot sinar dan terlihat mata berwarna kemerahan. Kuku tangan sangat tajam dan melengkung , ibu jari membesar dengan jari kedua pendek. Gigi seri selalu berjumlah 4, panjang badan 300-365 mm dengan bobot badan 1000-2000 gr.
Mata bulat, ekor sangat pendek. Warna rambut kuning kecoklatan dengan garis coklat tua di sepanjang punggungnya. Warna coklat juga melingkari matanya sehingga terkesan memakai kaca mata, di atas kedua alis bola mata menjulur warna coklat tua dan bersatu di punggung dan di antara kedua warna yang berada di atas alis bola mata tersebut membentuk warna coklat muda. Pada waktu malam mata merefleks jika terkena sorot sinar dan terlihat mata berwarna kemerahan. Kuku tangan sangat tajam dan melengkung , ibu jari membesar dengan jari kedua pendek. Gigi seri selalu berjumlah 4, panjang badan 300-365 mm dengan bobot badan 1000-2000 gr.
Kemiripan Jenis
Nycticebus javanicus hanya terdapat di Jawa, warna di bagian atas di atas alis kedua bola mata berwarna putih, gigi seri 2, 3, atau 4.
Nycticebus javanicus hanya terdapat di Jawa, warna di bagian atas di atas alis kedua bola mata berwarna putih, gigi seri 2, 3, atau 4.
Ekologi
Dijumpai di hutan primer dan sekunder di dataran rendah atau pegunungan, hutan bamboo, bakau dan tidak jarang dijumpai di perkebunan coklat. Pergerakannya sangat lamban dan jarang dijumpai turin ke tanah. Pada umumnya hidup menyendiri di malam hari dengan pakan utamanya serangga, moluska, mamalia kecil, cicak, buah-buahan yang lunak seperti Piper aduncum dan kadang makan buah coklat. Kebuntingan dicapai pada kurun waktu 193 hari dengan siklus menstruasi 37-54 hari. Dewasa kelamin 18-24 bulan, anak memisahkan diri dari induknya 12-14 bulan. Di laboratorium jenis ini sanggup hidup sampai mencapai umur 12 tahun 8 bulan.
Dijumpai di hutan primer dan sekunder di dataran rendah atau pegunungan, hutan bamboo, bakau dan tidak jarang dijumpai di perkebunan coklat. Pergerakannya sangat lamban dan jarang dijumpai turin ke tanah. Pada umumnya hidup menyendiri di malam hari dengan pakan utamanya serangga, moluska, mamalia kecil, cicak, buah-buahan yang lunak seperti Piper aduncum dan kadang makan buah coklat. Kebuntingan dicapai pada kurun waktu 193 hari dengan siklus menstruasi 37-54 hari. Dewasa kelamin 18-24 bulan, anak memisahkan diri dari induknya 12-14 bulan. Di laboratorium jenis ini sanggup hidup sampai mencapai umur 12 tahun 8 bulan.
Status Internasional
Nama Lokal
Bukang, kemalasan, kongkang (Sumatra), buku-semunding (Riau, Sumatra bagian Timur, Bangka) Ria, pincha-tingaling (Sumatra), putra bayur, bakiki (Punan, Pasir), beruk alun, bengkong (Kayan), daou laon (Melap), duk talon (Keanyah), fugah, pugah (Lun Dayak, Kelabit), kuge (Berau), hafat lumut (Bahau), kelawat jumok (Berau), pakiki (Melayu), songneong (Modang), warik bamban (Bukit), woruk pukot (Dusun).
Bukang, kemalasan, kongkang (Sumatra), buku-semunding (Riau, Sumatra bagian Timur, Bangka) Ria, pincha-tingaling (Sumatra), putra bayur, bakiki (Punan, Pasir), beruk alun, bengkong (Kayan), daou laon (Melap), duk talon (Keanyah), fugah, pugah (Lun Dayak, Kelabit), kuge (Berau), hafat lumut (Bahau), kelawat jumok (Berau), pakiki (Melayu), songneong (Modang), warik bamban (Bukit), woruk pukot (Dusun).
Label:
deskripsi
17.10
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Mammalia
Order : Marsupialia
Family : Macropodidae
Genus : Dendrolagus
Nama Asli:
Dendrolagus aureus Ramsay, 1883
Sinonim:
Dendrolagus aureus Rothschild & Dollman, 1936; Dendrolagus palliceps Troughton & Le Souef, 1936; Dendrolagus profugus Troughton & Le Souef, 1936.
Deskripsi:
Perut dan bagian bawah tubuh berwarna coklat agak kehitaman menyerupai bagian punggung dan bahu yang berwarna coklat dengan ujung rambut sedikit keperakan. Panjang ekor kurang dari 120 % panjang badan. Bagian pangkal ekor dan anggota badan kemerahan atau dengan pangkal ekoer berwarna kekuningan. Panjang badan 515-770 mm, panjang ekor 400-662 mm (77-80 % panjang badan), panjang telapak kaki 90-120 mm. bobot badan 7000-14500 gr
Ekologi
Dapat djiumpai pada ketinggian 600-3650 m dpl, hidup dengan membentuk kelompok kecil terdiri atas jantan dan betina dewasa bersama anaknya. Lama kopulasi 20 menit, dewasa kelamin dicapai lebih dari 21 bulan. Hidup mencari pakan berupa daun seperti Asplenium spp
Status internasional

Nama Lokal:
Tingkalong, ndomea (Moni, Pogapa), naki (Amungme-Temagapura), weya (Dani, Kwiyawagi)
Dendrolagus doranius
Written By Unknown on Kamis, 14 November 2013 | 17.10
Dendrolagus doranius Ramsay, 1883
Peraturan Indonesia
SK Mentan No. 247/Kpts/Um/4/1979 (tertulis: Dendrolagus spp.)
Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 (tertulis: semua jenis dari marga Dendrolagus)
Distribusi
D. d. mayri Rothschild & Dollman, 1933: Papua (Semenanjung Bomberai, Pegunungan Wondiwoi, Pegunungan Sudirman, Pegunungan Jayawijaya)
D. d. notatus Matshie, 1916: Papua
D. d. stellarum Flannery & Seri 1990: Pegunungan Maakop, Papua.
SK Mentan No. 247/Kpts/Um/4/1979 (tertulis: Dendrolagus spp.)
Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 (tertulis: semua jenis dari marga Dendrolagus)
Distribusi
D. d. mayri Rothschild & Dollman, 1933: Papua (Semenanjung Bomberai, Pegunungan Wondiwoi, Pegunungan Sudirman, Pegunungan Jayawijaya)
D. d. notatus Matshie, 1916: Papua
D. d. stellarum Flannery & Seri 1990: Pegunungan Maakop, Papua.
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Mammalia
Order : Marsupialia
Family : Macropodidae
Genus : Dendrolagus
Nama Asli:
Dendrolagus aureus Ramsay, 1883
Sinonim:
Dendrolagus aureus Rothschild & Dollman, 1936; Dendrolagus palliceps Troughton & Le Souef, 1936; Dendrolagus profugus Troughton & Le Souef, 1936.
Deskripsi:
Perut dan bagian bawah tubuh berwarna coklat agak kehitaman menyerupai bagian punggung dan bahu yang berwarna coklat dengan ujung rambut sedikit keperakan. Panjang ekor kurang dari 120 % panjang badan. Bagian pangkal ekor dan anggota badan kemerahan atau dengan pangkal ekoer berwarna kekuningan. Panjang badan 515-770 mm, panjang ekor 400-662 mm (77-80 % panjang badan), panjang telapak kaki 90-120 mm. bobot badan 7000-14500 gr
Ekologi
Dapat djiumpai pada ketinggian 600-3650 m dpl, hidup dengan membentuk kelompok kecil terdiri atas jantan dan betina dewasa bersama anaknya. Lama kopulasi 20 menit, dewasa kelamin dicapai lebih dari 21 bulan. Hidup mencari pakan berupa daun seperti Asplenium spp
Status internasional
Nama Lokal:
Tingkalong, ndomea (Moni, Pogapa), naki (Amungme-Temagapura), weya (Dani, Kwiyawagi)
Label:
mamalia,
pengertian
16.35
Ailiurops ursinus
Ailiurops ursinus (Temminck, 1842)
Bubutu mehmu
Bear Cuscus, Large-sulawesi Cuscus
Bubutu mehmu
Bear Cuscus, Large-sulawesi Cuscus
Peraturan Indonesia
SK Mentan No. 247/Kpts/Um/4/1979 (tertulis: Phalanger spp).
Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999. (tertulis semua jenis dari marga Phalanger)
Distribusi
A. u. melanotis Thomas, 1898: Kepulaluan Talaud (Salebabu)
A. u. ursinus (Temminck, 1842): Sulawesi (bagian utara)
A. u. furvus Miller & Hollister, 1992: Sulawesi (bagian tengah dan timur).
A. u. flavissimus Feiler, 1977: Peleng.
A. u. toganius Tate, 1945: Kepulauan Togian (Melange)
SK Mentan No. 247/Kpts/Um/4/1979 (tertulis: Phalanger spp).
Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999. (tertulis semua jenis dari marga Phalanger)
Distribusi
A. u. melanotis Thomas, 1898: Kepulaluan Talaud (Salebabu)
A. u. ursinus (Temminck, 1842): Sulawesi (bagian utara)
A. u. furvus Miller & Hollister, 1992: Sulawesi (bagian tengah dan timur).
A. u. flavissimus Feiler, 1977: Peleng.
A. u. toganius Tate, 1945: Kepulauan Togian (Melange)
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Mammalia
Order : Diprotodontia
Family : Phalangeridae
Genus : Ailurops (1)
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Mammalia
Order : Diprotodontia
Family : Phalangeridae
Genus : Ailurops (1)
Nama Asli:
Phalangista ursine Temminck, 1824
Phalangista ursine Temminck, 1824
Sinonim
Phalanger furvus Miller & Hollister, 1992; Phalanger ursinus flavissinus Feiler 1977; Phalanger ursinus intermedius Hooijer, 1952.
Phalanger furvus Miller & Hollister, 1992; Phalanger ursinus flavissinus Feiler 1977; Phalanger ursinus intermedius Hooijer, 1952.
Deskripsi:
Merupakan kelompok kuskus terbesar, tidak dijumpai bintik dan garis strip di punggungnya, rambut bulu terkesan panjang dan kasar, bagian dalam telinga berambut, tubuh kehitaman dengan ujung rambut kekuningan, bagian bawah tubuh keputihan, memiliki lingkaran mata, ekor yang polos tertutup oleh tuberkula kasar dan moncong berambut sangat sedikit. Bobot badan 10000 gr, panjang badan 610 mm, panjang ekor 580 mm dan panjang telapak kaki 120 mm.
Merupakan kelompok kuskus terbesar, tidak dijumpai bintik dan garis strip di punggungnya, rambut bulu terkesan panjang dan kasar, bagian dalam telinga berambut, tubuh kehitaman dengan ujung rambut kekuningan, bagian bawah tubuh keputihan, memiliki lingkaran mata, ekor yang polos tertutup oleh tuberkula kasar dan moncong berambut sangat sedikit. Bobot badan 10000 gr, panjang badan 610 mm, panjang ekor 580 mm dan panjang telapak kaki 120 mm.
Kemiripan Jenis
Strigocuscus celebensis, bulu rambut halus telinga bagian dalam polos.
Strigocuscus celebensis, bulu rambut halus telinga bagian dalam polos.
Ekologi
Tidak sepenuhnya aktif di malam hari tetapi juga aktif di siang hari. Jenis ini menyukai nasi, buah-buahan, daun Ficus sp, Draconto melumdao, Syzygium sp. dan Garuga floribunda. Jenis ini banyak dijumpai di ketinggian 400 m dpl dan mulai jarang di ketinggian 60 m dpl, walaupun pernah dilaporkan hidup sampai 1800 m dpl.
Tidak sepenuhnya aktif di malam hari tetapi juga aktif di siang hari. Jenis ini menyukai nasi, buah-buahan, daun Ficus sp, Draconto melumdao, Syzygium sp. dan Garuga floribunda. Jenis ini banyak dijumpai di ketinggian 400 m dpl dan mulai jarang di ketinggian 60 m dpl, walaupun pernah dilaporkan hidup sampai 1800 m dpl.
Status Internasional
07.42
Monotremata
Monotremata
Anggota-anggota subkelas ini mempunyai ciri-ciri: tidak
punya daun telinga, hewan muda bergigi, hewan dewasa berpengaruh, mempunyai
kloaka, kelenjar susu tanpa putting, testes abdominal (terletak di dalam rongga
abdomen, tidak turun ke dalam kantung buah zakar), bersifat ovipar.
Zaglossus bruijnii (Peters & Doria, 1876)
Nokdiak nata-fem
Long-beaked Echidna
Peraturan Indonesia
SK Mentan No.
66/Kpts/Um/2/1973 (tertulis: Prochochidna
bruijnii, nama marga Procochidna telah
direvii menjadi Zaglossus).
Distribusi
Z.
b. googfellowi (Thomas, 1907): Salawati.
Z. b. bruijnii (Peters & Doria. 1876): Papua.
Klasifikasi:
| Kingdom | Animalia |
| Phylum | Chordata |
| Class | Mammalia |
| Order | Monotremata |
| Family | Tachyglossidae |
| Genus | Zaglossus |
Nama Asli:
Tachiglossus bruijnii (Peters & Doria, 1876)
Sinonim:
Bruijnii tridactyla Dubois, 1882; Prochidna leucocephala Rothschild, 1893; Acanthoglossus goodfellowi Thomas, 1907; Proechidna nigro-aculeata Rothschild, 1893.
Deskripsi:
Salah satu mamalia
bertelur, tubuh diselimuti rambut dan duri selayaknya seperti landak yang
berada di Indonesia bagian baratt. Warna rambut kecoklatan atau hitam
kecoklatan, warna duri keputihan dan kadangkala berwarna abu-abu terang. Moncong
berupa paruh menjulur panjang dan melengkung ke bawah, tidak memiliki gigi.
Jari kaki berkuku dengan kuku jari kaki belakang lebih panjang. Panjang badan
573-656 mm dengan bobot badan 10000-16500 gr.
Kemiripan jenis
Tachiglosssus aculentus, paruh pendek, ukuran lebih kecil dengan
duri kekuningan dan ujung hitam
Status International
Ekologi
Hidup di hutan primer,
sekunder, atau lokasi dimana jaran dikunjungi manusia pada ketingggian 600-4150
m dpl, hutan dataran rendah dengan tanah yang lembek. Pakan berupa cacing yang
diambilnya dengan menggunakan lidah yang ada di dalam paruh. Sering di jumpai
di dalam lubang-lubang tanah. Anak yang baru menetas dari telurnya di
sembunyiknan dalam kantong induknya, anak berpisah dari induknya atau keluar
dari sarang setelah berambut sempurna. Kerapatan jenis ini di alam sangat
rendah, diperkirakan 1,6 individu per km
Label:
mamalia
07.19
Karakteristik Mamalia
1.
Kelenjar susu
Jenis
betinanya mempunyai kelenjar kulit di bwah tubuh (misalnya daerah abdominal,
pectoral, dan inguinal) yang mengeluarkan susu sesudah melahirkan. Pada
Marsupialia dan hewan placental kelenjar susu memiliki puting. Monotrremata
tidak memiliki puting tetapi pada wakktu menyusui anaknya, induknya meneletang
sehingga susu menglir karena adanya tekanan abdomen akibat stimulus anaknya.
Pada jenis jantan kelenjar susu meredukksi sehingga tidak dapat digunakan
sebagaimana jenis betina.
2. Rambut
Semua
mamal pada dasarnya memilki rambut, sedikitnya daam datu fase siklus hidupnya.
Pada paus hanya ada beberapa helai rambut di daerah tenggorokan yang kemudian
mereduksi setelah dewasa. Setiap rambut tumbuh dari suatu bulbus dalam kulit
yang terletak miring sehingga mengakibatkan rambut tumbuh pada pola tertentu.
Kantung (bulbus) ini dilengkapi kelenjar palit yang mengeluarkan zat semacam
minyak (sebum) yang menyebabkan rambut mengkilap. Pada dasarnya rambut berperan
penting dalam pengaturan suhu (thermoregulasi).
3.Homoiothermia (hewan berdarah
panas)
Pada
mamalia suhu tubuh dipertahankan pada suhu yang relatif tetap (sekitar 36°C) sehingga kebanyakan mamalia
secara teoritis sanggup melakukan aktivitas walaupun pada suhu lingkungan yang
sangat rendah. Dalam udara dingin bulu berdiri dengan demikian tebal lapisan
isolasinyamenjadi lebih besar, sedangkan di udara panas berlebihan disalurkan
keluar melalui kelenjar keringat yang juga merupakan ciri khas mamalia. Adanya
suhu tubuh yang terus menerus tinggi memungkinkan hewan yang bersangkutan
memanfaatkan lingkungan yang dingin bahkan lingkungan kutub dan memperhatikan
aktivitas tanpa bergantung pada suhu luar.
Label:
karakteristik,
mamalia
06.42
Bapak Taksonomi
Carl Linnaeus, juga dikenal sebagai Carl von Linné atau
Carolus Linnaeus, yang seringkali disebut sebagai Bapak Taksonomi. Sistem
penamaan, pengurutan, dan klasifikasi mahluk hidupnya masih digunakan hingga
saat ini oleh banyak orang (dengan berbagai perubahan). Pemikirannya terhadap
klasifikasi telah mempengaruhi generasi-generasi ahli biologi yang ada pada
masanya dan setelah ia wafat, meskipun bertentangan dengan akar filosofi dan
teologi pekerjaanya.
Label:
taksonomi














